Monday, June 12, 2017

Bulan Ramadhan: Bulan Literasi Al-Qur'an

Bulan Ramadhan:
Bulan Literasi Al-Qur’an

Bulan Ramadhan memiliki sebutan yang berbeda. Diantaranya dikenal sebagai bulan maghfiroh, karena di dalamnya Allah memberi amnesti kepada orang-orang yang berpuasa Ramadhan dengan penuh iimaanan wahtisaaban, penuh keimanan dan kesungguhan.
Kemudian Ramadhan dijuluki bulan Al-Qur’an atau syahrul qur’an, karena di dalamnya Al-Qur’an diturunkan. Sebagaimana diperkuat dalam QS al-Baqarah ayat 184.
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ
Artinya:
Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).
Ayat pertama yang diturunkan adalah “Iqra”, yang artinya “bacalah!” Hal ini merupakan perintah Allah SWT melalui malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW untuk membaca. Atau secara luas dimaknai perintah untuk belajar. Belajar membaca ayat-ayat Allah, baik ayat-ayat qauliyah berupa ayat-ayat dalam Al-Qur’an maupun ayat-ayat kauniyah yakni ayat-ayat Allah yang ada di sekitar kita.
Untuk mendukung keberhasilan memenuhi perintah iqra tersebut, maka dibutuhkan kemampuan berliterasi. Literasi tidak diartikan kemampuan menulis dan membaca belaka. Melainkan kemampuan mengenali dan memahami ide-ide yang disampaikan secara tersurat maupun tersirat.
Orang yang melakukan literasi Al-Qur’an berarti adanya kesadaran dalam diri seseorang muslim untuk berpikir dan kreatif yang dilandasi oleh tradisi baca tulis Al-Qur’an.
Dikaitkan dengan Ramadhan sebagai bulan Literasi Al-Qur’an, maka Islam memotivasi orang beriman melalui ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits mengenai keistimewaan membaca, mengajarkan, dan mengamalkan Al-Qur’an.
Salah satunya adalah hadits yang berbunyi,
 “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari dan mengajarkan Al-Qur’an”
Mempelajari berarti membutuhkan kemampuan berliterasi. Sehingga belajar membaca Al-Qur’an sangatlah penting. Sampai-sampai diiming-imingi bahwa setiap satu huruf al-Qur’an yang dibaca akan mendapatkan sepuluh kebaikan.
“Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitabullah (Al-Qur’an), maka baginya satu pahala kebaikan dan satu pahala kebaikan akan dilipat gandakan menjadi sepuluh kali lipat”
(HR Tirmidzi no 2835)
Lafadz basmalah ada berapa huruf?
Ya, benar. Ada 19 huruf. Berarti jika kita membaca “bismillaahirrohmaanirrohiim”, kita akan mendapatkan 19 x 10 = 190 kebaikan. Bayangkan jika membaca satu surat! Surat al-Fatihah misalnya, berapa pahala kebaikan yang akan kita raih? Bagaimana membaca satu ruku’, sepertiga juz, setengah juz, satu juz, separuh al-Qur’an, bahkan khatam membaca satu mushhaf Al-Qur’an? Sungguh besar, amat banyak potensi pahala kebaikan yang akan diraih orang membaca Al-Qur’an.
Bermula dari semangat Literasi Al-Qur’an, maka manusia Islam Nusantara Berkemajuan akan terwujud. Kenapa? Karena pilar membangun peradaban ada tiga yaitu budaya baca (iqra), budaya diskusi (musyawarah), dan budaya tulis (uktubu). Ketiganya ada dalam dunia literasi. Konkretnya, orang-orang Indonesia, khususnya muslim, harus lebih giat berliterasi Al-Qur’an.
Coba simak ayat terpanjang dalam surat Al-Baqarah! Ada yang tahu ayat ke berapa? {diam sejenak untuk mendengar respon audien]
Di dalamnya disebutkan perintah untuk mencatat atau menuliskan dan mendiktekan atau meng-imla-kan. Tentang apa? Dalam kasus ayat tersebut adalah mengenai utang piutang “tadaayangtum bidain”.
Petikannya berbunyi:
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu melakukan utang piutang untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, meka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya” QS Al-Baqarah ayat 282.
Hikmahnya apa?
Kalau yang suka utang piutang, harus dicatat. Siapa yang ngutang, siapa yang piutang, berapa besar utangnya, kapan kesepakatan bayar, gimana teknis bayarnya: dicicil per minggu, per bulan, atau per tahun, dll. Supaya jika di lain hari belum dibayar, atau akan nagih, jelas pedomannya. Tidak usah buru-buru nyewa debt collector.
Hadirin rahimakumullah,
Berliterasi Al-Qur’an bisa dimulai dengan belajar membaca huruf-huruf Al-Qur’an. Makanya ada metode Iqra, Ummi, dll. Dulu ada metode al-Baghdadi. Lalu baca per ayat. Kemudian pelajari arti per kata, per ayat. Lalu baca atau pelajari tafsirnya. Sebab-sebab turunnya ayat atau asbabun nuzul-nya. Setelah itu hapalkan dan pahami maknanya. Kemudian amalkan.
Ingatlah bahwa Nabi Muhammad SAW pernah berpesan, “Sampaikan dariku, walaupun satu ayat”. بَلِّغُوْا عَنِّي وَلَوَ اَيَةً {ballighuu ‘annii walau aayah}
Catatan: sebaiknya dilakukan dengan dibantu atau dibimbing oleh guru atau ahlinya.
Usia tidak boleh menjadi alasan untuk tidak mau berliterasi Al-Qur’an. Nyuwun sewu, Bapak-bapak dan ibu-ibu yang sudah sepuh, tidak usah malu untuk belajar membaca Al-Qur’an. Bukankah kita diperintahkan belajar sejak buaian sampai liang lahat. Selama nyawa masih di kandung badan, maka selama itu wajib mempelajari dan mengamalkan Al-Qur’an.
Jika sudah terbiasa berliterasi Al-Qur’an, maka literasi dalam bidang lainnya akan dimudahkan.
Apa saja macam-macam literasi yang dapat dimudahkan jika sudah terbentuk literasi Al-Qur’an?
1.    Literasi informasi
2.    Literasi statistik
3.    Literasi teknologi
4.    Literasi visual
5.    Literasi kritikal
6.    Literasi data
7.    Literasi finansial
8.    Literasi kesehatan
Dengan demikian, mumpung bulan Ramadhan, mari kita terus meningkatkan kemampuan kita berliterasi Al-Qur’an. Jika belum bisa ODOJ one day one juz, ya minimal satu hari satu ruku’. Baca teks Arabnya, baca pula teks artinya.
Indikator seseorang mendekati kesuksesan berliterasi Al-Qur’an adalah dia mampu membumikan Al-Qur’an atau menjadi Al-Qur’an benar-benar sebagai hudan (petunjuk) dan furqon (pembeda hak dan bathil). Apa-apanya dia kembalikan kepada Al-Qur’an. Apa yang diperintahkan Al-Qur’an, kerjakan. Apa yang dilarang Al-Qur’an, jauhi. Tentu saja dengan tetap menjadikan hadtis Nabi dan Ijtihad para ulama, setelah Al-Qur’an.

Demikian, mudah-mudahan bermanfaat. Setidaknya mengingatkan saya secara pribadi dan hadirin sekalian untuk meningkatkan WA-nan, waos al-Qur’an. 
Glondong, Wirokerten; Ahad, 11 Juni 2017

No comments:

Post a Comment